5/21/2008

Ketika yang Menolong Hanya Selembar Kartu Sakti











Hari baru pukul 10 saat aku bergegas naik ke lantai dua Plaza Cileduk. Hari itu aku harus ada uang untuk keperluan mendesak. Ya, sudah beberapa kali Bang Ryan ini yang menyelamatkan kami. Sayang sekali, kali ini aku harus kecewa, toko Bang Ryan yang tersembunyi di sudut plaza yang sesak.

Sejak ke Jakarta, Bang Ryan cukup sering membantu keuangan kami kala mendesak. Bang Ryan bukan family, ia hanya seorang pedagang yang menerima tarik tunai kartu kredit. Aku pun tau dari iklan keciknya di koran. Tarik tunai di tempat dia ini seolah kita membeli barang elektronik, namun kita diberi cash. Ia dapat untung dari biaya sekitar 4 persen. Biasanya ia akan nanya mau bersih apa kotor?

Kalau bersih artinya kalau kita minjam 1 juta, maka kita terima satu juta bersih namun di kwitansi tertulis rp 1.035.000, yang 35 ribu buat dia. Kalau kita mau terima kotor, berarti di kwitansi tertulis pas rp 1 juta namun kita nerimanya rp 965.000 atau 1 juta kurang bagian dia.

Pada kawan-kawan sering aku bilang, bahwa kalau hidup di Jakarta ada dua syarat utama, Pertama, HARUS KAYA dan kedua HARUS SABAR.

Kaya, karena semua serba mahal dan butuh biaya. Sejak pindah ke Jakarta aku harus mengeluarkan banyak biaya yang sebelumnya gak pernah ada budgetnya. Sewa rumahlah dan sebagainya.

Sabar, karena kita mesti berhadapan dengan macet, banjir, lalu lintas yang amburadul dan kelauan orang yang bermacam-macam. Aku sendiri kayaknya udah bisa sedikit sabar, sayangnya belum KAYA-KAYA.

Alhasil, setiap bulan selalu MANTAB alias MAKAN TABUNGAN. Parahnya, sudah makan tabungan, minus pula dan mesti ada subsidi baru. Dan jalan terakhir adalah TARIK TUNAI dari KARTU KREDIT yang akan dilunasi secepat mungkin pas gajian.

Dan hiduppun macam lagu Bang Rhoma Irama, Gali Lobang Tutup Lobang....

Aku sudah punya kartu kredit sejak 5 taun lalu. Dulu memang gunanya tak sering ada. Hanya buat kondisi mendesak aja. Namun dulu tetap ada ada godaan buat beli barang. Misalnya elektronik dan HP. Alhasil, bayarnya susah.... Akibatnya pernah aku hanya sanggup bayar bunga saja sementara hutangnya gak berkurang sama sekali.... Untung aku cepat sadar dan tutup semua hutang, kalaun tidak, entah bagaimana leher terjerat kartu BIADAB itu...

Sejak ke Jakarta, tiba-tiba hubungan kami dengan Kartu Kredit itu makin mesra aja. Maklum keperluan uang makin banyak sementara teman bagi masalah atau teman pinjam duit gak ada... Saudara juga jauh semua. Alhasil, kartu Citibank dan BNI yang aku punya pun menjadi Saudara Terkandung....

Suatu malam, anak kami Baron sakit. Muntah dan mencret.... Seharian gak sembuh... Obat tak mempan... Daun jambu yang direbus sudah diminumkan berkali-kali... Mencretnya makin parah, air besarnya malah sudah air semua... Sementara uang gak ada... Sementara kartu askes yang kami punya hanya bisa digunakan dengan pakai uang sendiri dulu...

Akhirnya kami nekat membawanya ke rumahsakit. Benar saja, di UGD ia muntah ke baju dokternya. Kontan saja sang dokter langsung perintahkan opname. Saat mendaftar di loket, aku pun diwajibkan menyetor deposit satu juta lebih... Pusing, mau nyari uang kemana?

Untung mereka cepat memberitahu bahwa bisa pakai kartu kredit... Maka dengan gagahnya, sang kartu membantu kami saat itu. Sejak saat itu, kami sering berkelakar bahwa satu-satunya family di kota besar ini hanya MBak Siti.... Maksudnya Citibank...

Kejadian berlanjut, Baron kembali sakit diare. Semua gara-gara air yang kotor... Kami merasa tertipu pemilik rumah. Kami tawarkan perdalam sumur bor dengan biaya setengah-setengah dia tetap gak gubris. Apa boleh buat, kami harus pindah meski kontrak rumah masih sisa 7 bulan... Sekali lagi, Mbak Siti (Citibank) menjadi dewa penyelamat, pada saat yang pas, aku ditawari Personal Loan sebagai fasilitas pengguna kartu kredit Citibank... dan akhirnya kami bisa pindah dan hidup sedikit lebih sehat...

Persoalan ternyata belum selesai... Beberapa kali kami mesti pontang panting mengatur keuangan....Hingga akhirnya tak ada jalan keluar selain minjam... Dan jalan satu-satunya hanya TARIK TUNAI lewat merchant, bukan lewat ATM. Sebab, kalau tarik tunai lewat ATM bunganya besar sekali. Sementara kalau tarik tunai dari toko bunganya sesuai dengan bunga belanja.

Seperti Bang Ryan, dia buka tokonya adalah toko elektronik merk tertentu, sekarang di tokonya juga jual handphone. Namun jualan sebenarnya adalah Alat atau mesin pembayaran kartu kredit itu... Dulu pas aku pertama kesana, Bang Ryan nampaknya juga baru bisnis itu, sebab ia saat itu juga masih kaku dan sempat salah ngetik jumlah uang segala.

Kembali ke cerita tadi, setelah siangnya melihat toko Bang Ryan tutup, sorenya aku beranikan lagi datang kesana. Bak menemukan harta karun, aku senang sekali melihat toko kecil itu buka. Melihat aku, Bang Ryan udah langsung paham. Ia pun langsung basa-basi bahwa memang baru buka karena harus membawa anak-anaknya rekreasi karena hari libur sekolah...

Transaksi pun lancar, Segepok uang berpindah ke dalam dompetku... Mudah-mudahan segera ada ganti buat membayarnya, karena akan susah kalau tak dibayar segera...

Sebenarnya toko seperti Bang Ryan ini banyak sekali. Sebelum dengan bang Ryan, aku juga pernah tarik tunai di toko travel dan toko emas. Biasanya mereka memang liat-liat dulu orangnya. Malah awalnya, aku mesti ditemani teman yang dari Bank, baru mereka mau melayani.

Di Medan, di toko emas yang ada tarik tunainya, aku diberi kartu agar setiap tarik tinggal memperlihatkan kartu itu saja sebagai identitas agar mereka segera tahu kalau kita udah pernah kesitu...

Berutang memang bukan pilihan, namun pada saat-saat tertentu berutang menjadi keharusan....

Kalau bisa memilih, aku ingin rasanya menggunting dua kartu kredit yang ada di dompet. Namun mengingat kondisi, rasanya masih butuh pertolongan mereka suatu saat nanti...

Beruntunglah orang-orang yang berkecukupan sehingga tak harus pusing pikir macam-macam soal keuangan rumahtangga.

Banyak orang yang takut pakai kartu kredit. Dan memang jangan sembarangan pegang kartu kredit, walau sakti dan berjasa pada kondisi darurat, kalau tak mampu menahan selera, kita bisa dijeratnya... Namun kalau mampu mengendalikan, kartu itu memang menjadi kartu sakti yang berjasa sekali.

Tipsnya sedikit saja, jangan pakai buat konsumsi, jangan pakai buat keperluan yang tidak mendesak. kalau pun harus tarik tunai, tarilah dari toko, jangan sesekali tarik tunai dari ATM. Dan terakhir, menabunglah agar di akhir bulan masih ada yang akan dikuras....

5/19/2008

Susahnya Mikirin Sekolah...

Tahun ini anakku Queena sudah masuk SD. Kami sudah siap-siap nyari sekolah. Namun ya Ampunnn, biayanya besar sekali...

Beberapa teman TK-nya sudah mendaftar di sekolah swasta. Biayanya antara 2,5 hingga 10 juta. Sebuah hal yang sedang tak sanggup kami lakukan saat ini. Makanya yang terpikir adalah masuk ke SD Negeri.

Dari beberapa orangtua teman TKnya, diberitahu bahwa di SD negeri biaya pun lumayan mahal. Akan habis juga sekitar 1,5 juta-an. Itu pun masuknya harus pakai antri ambil formulir sejak subuh.

Sabtu lalu, aku sempatkan mampir di SDN 1 Pinang, maksudnya mau nanya kapan pendaftaran dimulai. Disana sama sekali gak ada pengumuman apa-apa. Mungkin karena anak-anak sedang ujian. Yang mendatangiku justru seorang pemuda, entah preman entah tukang parkir yang mencoba menjelaskan bahwa pembukaan siswa baru baru akan buka bulan Juni. Ya sudahlah, aku pun pulang.

Ternyata mau masuk sekolah aja susah. Bertolak belakang dengan keinginan pemerintah agar semua warganya sekolah, minimal SD. Aku jadi terpikir bagaimana yang keluarganya gak mampu ya? Darimana mereka membiayai semua itu? Karena sejak dana BOS ada, sekolah justru menerapkan uang buku dan semuanya lebih tinggi, katanya untuk ini dan itu.

Bahkan kata orangtua teman anakku, ia bisa menitip pengambilan formulir ke salah seornag guru dengan biaya 65 ribu. Ini keterlaluan. Aku jadi ingat di kampung, disana, kalau masuk sekolah yang masuk aja. Sudah. Gak mesti pusing-pusing. Pantas aja di Jakarta ini orang-orang berlomba masuk sekolah swasta. Di kampungku, orang masuk swasta kalau di negeri sudah tak lulus.

Aku iba juga pada Queena karena tak bisa memasukkannya ke sekolah swasta yang agak bagusan. Kondisi keuangan sedang tak memungkinkan. Masuk SD negeri aja yang biayanya sekitar 1,5 juta aku harus pontang panting. Untunglah keluarga besar paham.

Minggu lalu, ibuku mengirimkan uang 500 ribu, katanya buat nambah biaya masuk sekolah Queen. Trus mertuaku juga ngirim 2 stel baju seragam, dan akan ngirim uang juga. Makasih semuanya.... Inilah hakikat keluarga yang saling bantu dalam kesusahan.

Mudah-mudahan semua beres, Queena bisa sekolah mesti aku belum tau kapan harus antre dapetin formulir pendaftarannya... Semua masih belum jelas.

Yang penting sekarang, Queena sekolah aja dulu, dimana saja gak jadi masalah. Nanti kalau sudah ada uang baru dipindahkan ke sekolah yang favorit deh, Insya Allah...


4/25/2008

Cerita soal Aie Bangih di Padang Ekspres

Saya menggabiskan masa kanak-kanak di Aie Bangih, maka pas nemu tulisan ini saya jadi rindu sekali melihat Aie Bangih lagi... Main-main ke Tugu, berenang di sepanjang pantai (asal jangan kena kotoran manusia aja) dan berdayung sepanjang muara, atau juga memancing di dermaga pelabuhan...

PADANG EKSPRES

Bertaruh Nyawa di Atas Hantaman Gelombang, Pulau Perawan nan Mahal
Minggu, 13 April 2008
Sample ImageKabupaten Pasaman Barat, salah satu kabupaten di Sumbar, menyimpan banyak kekayaan alam. Tidak hanya sumber tambang, tetapi juga sumber daya alam yang indah dan dapat dijadikan objek wisata bahari unggulan. Di Pasaman, ada sebuah pulau perawan. Pulau Panjang, begitu masyarakat menyebutnya. Transportasi yang minim menjadikan pulau ini objek wisata mahal untuk dikunjungi. Memang tidak mudah untuk sampai ke pulau tersebut. Satu-satunya transportasi

ke pulau berpenduduk 1200 jiwa itu hanyalah perahu motor atau speadboad. Setengah jam, kita harus bertaruh nyawa dengan gelombang laut besar menuju pulau dengan luas 220 hektar tersebut. Dapat dipastikan, objek pulau ini belum dikunjungi banyak orang, kecuali penduduk di sana. Pulau ini tercatat, satu-satunya pulau berpenghuni di Pasaman Barat.

Pulau ini cocok dikunjungi bagi petualang sejati. Berangkat menggunakan Speedboad dari pelabuhan Air Bangis, cukup membuat hati berdebar-debar tidak karuan. Meskipun cuaca tidak terlalu buruk, ombak tetap tinggi menghantam perahu yang ditumpangi. Begitulah keseharian masyarakat Pulau Panjang menjalani kehidupan menuju pulau itu. Masyarakat Pulau Panjang biasanya belanja kebutuhan sehari-hari ke Pasar Air Bangis dengan ongkos Rp 6.000 pulang pergi. Sebagian besar penduduk pulau bekerja sebagai nelayan dan berdagang kecil-kecilan.

Sample ImageWarga dan anak sekolah saat sampai di Pulau Panjang setelah menyeberang dari Air Bangis menggunakan perahu.JPG

Tidak hanya transportasi, tetapi sarana dan prasana di pulau tersebut amat minim, sehingga kebanyakan anak pulau bersekolah ke Air Bangis. Menurut Wali Jorong Pulau Panjang, Ilman Tanjung, 90 persen warga pulau miskin, karena mereka hanyalah nelayan dan pedagang kecil. Pulau ini memiliki keindahan alam yang luar biasa. Pemandangan laut yang haru biru, serta hutan yang masih terjaga. Bahkan budidaya rumput laut berpotensi dikembangkan lantaran kondisi laut yang memungkinkan. Namun sayangnya, masyarakat pulau belum mendapatkan pengetahuan tentang hal itu.

Masyarakat ini membutuhkan pembinaan, begitupun keindahan alam di sana. Butuh sentuhan agar dapat dijadikan wisata unggulan di Pasaman Barat dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pulau Panjang. Masyarakat ini meminta pemerintah membangun posko jaga untuk memantau gangguan dari pihak luar. Selain itu, dalam waktu dekat Pemkab Pasbar akan membangun pelabuhan Teluk Tapang yang akan dapat menghidupkan ekonomi di Pulau Panjang.(altas maulana)

4/06/2008

Harga-harga yang Mencekik Leher

Tadi pagi, istri mengeluh. Satu bungkusan kecil yang ia beli dari pedagang sayuran keliling harus ditebus dengan 25 ribu. Padahal biasanya hanya 10 ribuan. Bawang merah yang biasanya bisa beli seribu, sekarang paling sedikit harus membeli seharga 4 ribu. Ada apa di negara ini, sehingga harga-harga seperti tak terkendali?

Dulu saat kecil, aku sering diceritakan ibu tentang masa darurat. Katanya saat itu semua mahal dan langka. Baju pun harus pakai karung goni. Sembako antre, saat itu semua hanya di angan-angan, sepertinya tidak akan pernah terjadi lagi. Tapi kemudian, suasana itu justru menjadi hal biasa sekarang. Antre dimana-mana, bahkan sampai harus ada kartu kendali segala. Ironisnya, antrean itu buat membeli, bukan gratisan... Sudah harga mahal, antre pula. Kloplah sudah keterpurukan bangsa ini.

Bagi sebagian orang mungkin biasa. Tapi, bagi kami yang duitnya pas-pasan sangat memberatkan. Budget bulanan tak pernah sesuai perkiraan. Selalu harus ada hutang... Sebuah yang tak pernah aku alami sebelumnya. Mungkin juga karena sekarang aku hidup di Jakarta yang memang situasinya begitu, tapi seharusnya Jakarta lebih baik dibanding daerah. Karena daerah tentu mengalami yang lebih parah lagi.

Di kampungku PAsaman Barat sana, semua barang harganya lebih mahal karena semua harus dibawa dari Padang, saat harga Aqua galon di kota masih 8 ribu, orangtuaku di Silaping sana sudah harus membelinya 15 ribu. Lalu bagaimana sekarang setelah harga-harga di kota pada naik? Orang-orang di kampung tentu akan mendapatkan efek yang dahsyat.

Di Kompas beberapa hari lalu, ada artikel yang kalimatnya dimulai dengan pertanyaan APA KERJA Pemimpin bangsa ini? Mau ngurus lagu atau sembako? Mau nonton film Ayat-ayat CInta atau ngurus warga miskin.

Siapa yang harus disalahkan kalau ini semua ternyata fenomena global. Disini, tahapan Pemilu sudah mulai kemarin. Pemimpin kita tentu akan sibuk ngurus partai, bukan ngurus rakyat lagi. Minimal sampai pemilu tahun depan. Lalu rakyat mau apa? Apa hanya dimanfaatkan kalau mau kampanye saja?

Alamak, makin pusing kepala kalau memikirkan ini. Seharusnya kita menikmati hidup, bukan memikirkan karena sudah banyak pejabat yang digaji untuk memikirkannya. Tapi apa mereka memang mau memikirkannya? Lha, pembalakan kayu di Kalbar aja yang terlibat justru pejabat-pejabat. Lalu siapa yang bisa nangkap koruptor kalau semua ikut korupsi?

Udahlah, bagusan kita pindah negara aja yuk, tapi negara mana yang mau nampung warga Indonesia? He he he...

2/27/2008

Semalam di Mukomuko Bengkulu

Gempa di Bengkulu lagi, kali ini 7,2 skala richter, disertai tambahan: Berpotensi Tsunami. Semua heboh, namun ada yang senang, tentu saja produser2 yang acaranya tayang sore, sebab sampai senin sore belum ada berita yang nendang. Ada gempa tentu ada yang baru.

Aku masih ngopi di warung sambil istirahat ketika HP berbunyi. Penugasan ke Mukomuko. Semua serba mendadak dan harus berangkat selasa subuh. Selasa pagi aku dan Arif Firmansyah, kameramen sudah tiba di Bengkulu. Seminggu lalu aku ke Semarang, ikut Dirjen ngambil gambar udara kemacetan Pati, kala itu aku sendirian pegang kamera, kali ini lumayan ada kameramen dan bawa peralatan streaming segala.

Konrtibutor Bengkulu, Syafran sudah menunggu di bandara, dia udah carikan mobil carter. Sehabis sarapan kami langsung meluncur ke Mukomuko yang berjarak 300 km dengan harapan masih sempat ngirim gambar buat tayangan sore.

Apa yang terjadi? Di Mukomuko justru tenang-tenang saja. Bah! Kek mana mau ngirim berita ini? Sama sekali tidak ada pengaruh, kota tetap ramai dan tidak ada kerusakan. Jakarta sempat nggak percaya. "Masa sih nggak ada yang rusak," kata Senprod kami yang baru, Charles Meikyansyah. Begitulah, macam mana awak mau merusak-rusak kalau memang gak ada yang rusak.

Akhirnya aku putuskan itu aja yang jadi berita. Bahwa Mukomuko normal, tak ada kepanikan. Jam 4 sore kami udah mutar2 nyari warnet. Ya ampun, ternyata gak ada warnet disana. Kami pun nyari penginapan agar bisa dapat colokan listrik dan bisa menghidupkan laptop. Akhirnya dapat di Wisma Mama, lumayan juga walau pun TVnya pakai sistem sentral.

Kami pun coba kirim gambar, kali ini pakai Telkomsel Flash. Hidup Dunia! internet kebuka, kirim bisa. Namun, ya ampiunnn, lambreta alias lambat sekali. Pasti karena disana hanya ada sinyal GPRS, bukan 3G. Alhasil, gambar semenit yang dikirim jam 4 sore, baru kelar jam 9 malam. Maka beritanya pun gak bisa di MHI dan Top9. Kemana-mana pun gak bisa karena harus jagain laptop di penginapan.

Humas Pemda Mukomuko sempat menelepon, katanya memang gak ada kerusakan. Bahkan, saat gempa mereka malah sedang meriah melaksanakan perayaan HUT ke-5 Kab Mukomuko. Sehingga data apa pun belum ada tercatat. Besoknya, Bupati dan Humas juga belum bisa memberi keterangan karena katanya ada acara peresmian dua kecamatan pemekaran.

Daripada bingung-bingung, sehabis sarapan kami pun ambil liputan antisipasi warga menghadapi tsunami. Soalnya banyak sekali rambu-rambu keselamatan kalau tsunami tiba yang terpasang disana. Kami sempat ke pantai segala untuk menambah gambar.

Kemana lagi? Ya pulang ke Bengkulu, mudah2an ada liputan di jalan. Benar saja, pas di Desa Bunga Tanjung, ada SD yang masih belajar di tenda. Padahal mereka korban gempa September 2007 lalu. Insting jurnalistikku mengharuskan kami singgah dan meliput. Benar saja, guru2 senang sekali kami datang. Soalnya mereka sudah kesal tidak ada bantuan pembangunan sekolah. 3 tenda yang ada sekarang tinggal satu, karena 2 hari sebelumnya 2 tenda rusak diterjang angin. Sekarang siswa yang semula di 2 tenda itu, pindah ke bangunan yang nyaris ambruk karena tidak ada pilihan lain.

Para siswa belajarnya sengaja menghadap pintu, agar bisa cepat menyelamatkan diri kalau gempa datang. Bangunan itu memang tidak layak sama sekali. Dinding belakangnya sudah tidak ada, dindingnya retak dan atapnya sudah tidak beraturan.

Tapi mengapa bantuan gempa tak sampai ke mereka ya? Soalnya sepengetahuan kita semua, masalah bantuan gempa di Bengkulu ini sudah selesai. Ternyata itu hanya di tingkat atas. Kenyataannya di lapangan, anak-anak masih belajar di tenda. Untung saja Gempa Senin lalu tak merontokkan bangunan di Mukomuko. Kalau ini terjadi bagaimana lagi nasib para korban? Soalnya sisa gempa tahun lalu saja belum tersentuh...

Sekarang (rabu sore) kami sudah di Bengkulu. Menikmati semalam di Mukomuko dan semalam di Bengkulu, negeri Raflesia yang konon ditukarguling dengan Singapura oleh Belanda dan Inggris. Tapi kok Belanda begok benar ya, mau aja nukar Bengkulu dengan Inggris. Bagi Bengkulu, tukar guling Bengkulu dari Inggris ke Belanda adalah satu kesalahan, coba mereka tetap jajahan Inggris, barangkali nasibnya akan berbeda dengan bekas jajahan Belanda yang lain. Ah, andai saja negeri ini benar-benar diurus dengan benar...

2/05/2008

Derita Ibu Kota, Derita Kita Juga

Alamak Jang, Jakarte kite banjir lagi. Saya kena getahnya lagi gara-gara banjir kali ini. Tahun lalu, motor masuk bengkel karena kerendam. Kali ini badan yang kerendam karena harus nyeberangin banjir.

Jum'at lalu hujan udah turun sejak malam. Kita yang udah paham dengan Jakarte, udah yakin bakalan ada banjir. Makanya pas berangkat ke kantor usai Jum'atan, motor ditinggal aja. Benar aja, pas di perempatan Ciledug, Kopaja 16 yang menuju Tanah Abang udah gak narik lagi. Terpaksa lah kita naik angkot sampai ke lokasi banjir. Benar saja, di depan perumahan Metro Permata, ribuan orang sudah tumpah ruah dengan kesibukan masing-masing. Air sudah setinggi kemaluan orang dewasa (minjam istilahnya reporter-reporter TV dari lapangan itu, he he he).

Orang-orang sudah mulai menyeberang. Ongkosnya 20 ribu untuk orang dan 50 ribu sepedamotor. Wah, kalau begini bisa bangkrut karena ada 3 lokasi banjir yang harus dilalui. Akhirnya aku nekat menyeberang dengan jalan kaki. Baju dan celana dalam ganti sudah di dalam tas, dipersiapkan dari rumah. Benar saja, airnya pas setinggi perut orang dewasa yang pendek, atau setinggi kemaluan orang dewasa yang agak tinggi. Ada juga yang setinggi dada orang dewasa (makanya kurasa istilah para reporter ini salah kaprah). Airnya deras sekali, beberapa motor dan mobil yang nekat akhirnya mogok di tengah jala. Selamat nyeberang ternyata masih ada dua genangan lagi.

Pas menjelang tanjakan tol Karang Tengah, air sudah tidak ada tapi angkot yang gak ada. Terpaksalah jalan kaki lagi ke Mal Puri. Disana baru naik angkot ke kantor. Di kantor suasananya sudah siaga. Banyak rekan yang libur. Ada yang memang kehambat banjir, ada yang iseng aja libur karena pas ada alasan banjir.

Kalau begini terus, mampus lah kita yang di Jakarta ini. Bagaiamana kalau kita tanya pada AHLINYE?

1/30/2008

27 Januari

27 Januari 2008 lalu,usiaku berkurang setahun. Sudah 33 tahun sekarang. Tak terasa, terasa aku sudah tua. He he he. Seperti kebiasaan kami, Ulangtahun tak diperingati. Pagi-pagi istri dan anak-anak mengucapkan selamat. Lalu ada telepon dari Ayah dan Umak. Sudah. Itu saja. Kami memang tak kenal bagaimana memperingati ulang tahun.


Semua sama saja. Menuruku ini adalah wajar saja. Sama dengan kebiasaan sebagian orang yang pakai cincin kawin, di daerah kami kebiasaan itu juga tidak wajib.


Tak menyangka, 27 Januari tiba-tiba menjadi sangat ramai karena Soeharto meninggal dunia. Kami yang kerja di media, sudah 3 minggu berjaga-jaga. Sampai ada yang sakit dan bosan menunggu. Ada yang standby di RSPP, lalu ada yang berjaga di Cendana. Dua minggu terakhir ada pula yang berjaga-jaga di Astana Giribangun dan di Kalitan Solo. Luar Biasa…


Lebih luar biasanya lagi, semua TV langsung breaking news. Dan aku malah menonton dari rumah. Pas lagi libur. Seperti direncanakan saja, aku menikmati ultah pas libur dan pas kawan-kawan di kantor heboh luar biasa karena ada breaking news. Rasanya dunia ini luas dan menyenangkan sekali. Ha ha ha…


Jadi, buat tahun ke depan, ulangtahunku akan diperingati berbarengan dengan ulangtahun wafatnya Soeharto.

Semua media memberi perhatian luar biasa. Wajar karena melihat ketokohan Soeharto. Namun gak imbang karena semua TV dan media lebih banyak mengekspos pernyataan agar semua warga memberi maaf pada dia. Apa bisa? TV gak mewawancara para korban kekerasan Orde Baru. Masyarakat kita memang bangsa yang pemaaf dan pelupa.


Artis berlomba-lomba datang ke Cendana memberi duka cita. Lalu wawancara dengan infotainment. Padahal waktu hangat-hangatnya isu Anti KKN, mereka juga ikut turun ke jalan. Di negara ini memang serba bermukadua.


Aku masih mahasiswa saat Reformasi tahun 1998. Kami ikut turun ke jalan sampai Soeharto jatuh. Sebuah peristiwa yang luar biasa melihat mahasiswa sekompak itu. Apakah masih akan terulang lagi?


Bagi kami Soeharto adalah sosok negarawan yang tegas dan pintar. Sayangnya kroni dan keluarganya terlalu rakus hingga harus mengorbankan Soeharto. Semua itu memang harus ada yang mempertanggungjawabkan. Makanya lucu saja kalau banyak sekali orang di negeri ini yang minta semua memaafkan Soeharto.


Soeharto memang sosok luar biasa. Di kampung-kampung dan pasar-pasar, semua mengatakan zaman Soeharto lebih baik. Beras murah, semua aman, tak ada antri minyak. Hidup tenang. Berbeda dengan sekarang. Semua harga mahal. Senyumnya sangat khas kalau sedang berkunjung ke daerah. Ribuan orang berbaris di tepi jalan untuk melihatnya. Semua bangga bisa salaman darinya. Bagaimanapun, dia memang negawaran sejati. Yang membuat Indonesia kita saat itu disegani dunia.


Tabloid Bola menggambarkan wafatnya Soeharto dengan prestasi olahraga. Prestasi langsung menukik tajam saat Soeharto turun. Sekarang, saat warga sulit membeli beras dan tempe, petinggi kita malah sibuk minta naik gaji, minta fasilitas dan berbagai macam kasus korupsi.


Kita tentu rindu suasana dulu. Namun tentu bukan soal korupsinya. Cukup pada kondisi kesejahteraan warga saat itu. Dan tentu rindu melihat bangsa ini kembali disegani, baik politik maupun olahraga….


27 Januari, selain tanggal kelahiranku, juga punya catatan peristiwa-peristiwa penting, diantaranya:


Peristiwa

Kelahiran

Meninggal

Hari besar dan peringatan