6/10/2008

Indonesia adalah Negara Asia Pertama di Piala Dunia?

Diakui atau tidak, Indonesia adalah negara Asia pertama yang berlaga di ajang Piala Dunia, tepatnya Piala Dunia 1938 di Prancis.

Meski saat itu belum merdeka, Indonesia mengusung nama Nederlandsche Indiesche atau Netherland East Indies atau Hindia Belanda.

Panasnya keadaan di Eropa dan sulitnya transportasi ke Prancis secara tak langsung memberikan keuntungan. Jepang menolak hadir dan memberikan kesempatan bagi Hindia Belanda untuk tampil mewakili zona Asia di kualifikasi grup 12. Lalu Amerika Serikat yang jadi lawan berikutnya menyerah tanpa bertanding.

Jadilah anak-anak Melayu ini melenggang ke Prancis.
Pengiriman kesebelasan Hindia Belanda bukannya tanpa hambatan. NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola Belanda di Jakarta bersitegang dengan PSSI yang telah berdiri April 1930. PSSI yang diketuai Soeratin Sosrosoegondo, insinyur lulusan Jerman yang lama tinggal di Eropa, ingin pemain mereka yang dikirimkan.

Namun, akhirnya kesebelasan dikirimkan tanpa mengikutsertakan pemain PSSI dan menggunakan bendera NIVU yang diakui FIFA.

Ditangani pelatih Johannes Mastenbroek, pemain kesebelasan Hindia Belanda adalah mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda.

Tercatat nama Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermandji, Anwar Sutan, dan kiri luar Nawir yang juga bertindak sebagai kapten.

Pada babak penyisihan, Hindia Belanda langsung menghadapi tim tangguh, Hungaria, yang kemudian meraih posisi runner-up.

Tak banyak informasi yang didapatkan mengenai pertandingan di Stadion Velodrome Municipale, Reims, 5 Juni 1938, tersebut. Pada pertandingan yang disaksikan 9.000 penonton itu, Hindia Belanda tak mampu berbuat banyak dan terpaksa pulang lebih cepat setelah digilas 6-0.

Meski belum menggunakan bendera Merah-Putih, inilah satu-satunya penampilan tim Melayu di Piala Dunia, hingga sekarang! (Koran Tempo, 11 Mei 2006)

Belanda Hancurkan Juara Dunia Italia 3-0

Tuh kan? Belanda membuktikan diri lebih jago dibanding Juara Dunia Italia....Skornya 3-0 pulak... Kita tunggu Belanda di final ya?

6/09/2008

Saatnya Menilai Televisi dengan "Rating" Kualitas

Saatnya Menilai Televisi dengan "Rating" Kualitas
KOMPAS, Minggu, 8 Juni 2008 | 00:46 WIB

DAHONO FITRIANTO & SUSI IVVATY

Prihatin terhadap sistem ”rating” kuantitatif sebagai patokan menilai program televisi, beberapa organisasi independen membuat metode survei lain, yakni menilai kualitas acara televisi. Hasil survei menunjukkan, program yang paling banyak ditonton bukanlah yang bermutu terbaik.

Survei bertitel Rating Publik ”Menuju Televisi yang Ramah Keluarga” ini dilakukan Yayasan Sains, Estetika, dan Teknologi (SET) didukung Yayasan TIFA, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), The Habibie Center, dan London School of Public Relations.

Koordinator survei Agus Sudibyo menegaskan, meski sama- sama menggunakan kata rating, metode ini bukan dimaksudkan untuk menandingi sistem yang diselenggarakan lembaga riset AGB Nielsen (yang menjadi patokan stasiun TV selama ini). ”Metodenya jauh berbeda,” ungkap Agus.

Survei rating publik ini dilakukan dengan menyebar kuesioner dan rekaman kepada 220 responden, masing-masing 20 responden di 11 kota, yakni Jakarta, Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Denpasar, Batam, Pontianak, dan Palembang. Responden dipilih menggunakan metode sampel kuota dan dari kalangan pemerhati televisi di setiap kota.

”Respondennya harus orang- orang yang paham dan bisa menilai secara kritis program acara televisi. Jadi, tidak bisa dipilih secara acak dari para kalangan masyarakat umum. Riset ini tidak berpretensi menggambarkan penilaian seluruh penonton televisi,” papar Agus.

Untuk mencari responden yang sesuai dengan kriteria itu, mereka bekerja sama dengan lembaga independen pemerhati televisi di setiap kota, yakni Yayasan Kippas (Medan), LKi&KP (Batam), LPS-AIR (Pontianak), LKM (Surabaya), Silabika dan Pustaka Melayu (Palembang), YPMA KIDIA (Jakarta), LeSPI (Semarang), Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad (Bandung), Pusat Studi Audience Program Studi Ilmu Komunikasi STPMD ”APMD” (Yogyakarta), Elsim (Makassar), dan IJTI Provinsi Bali (Denpasar).

Selain harus menjawab kuesioner, setiap responden juga harus menonton rekaman 15 acara TV, masing-masing lima acara untuk tiga kategori utama acara TV, yakni hiburan, bincang-bincang (talkshow), dan berita reguler. ”Kami kirimi setiap responden rekaman itu agar mereka bisa benar-benar menelaah isinya. Lima acara yang dipilih adalah acara yang memiliki rating tertinggi berdasar riset AGB Nielsen,” kata Agus.

Setelah mengolah data dari 191 responden yang mengembalikan kuesioner, terlihat bahwa mayoritas responden (41,9 persen) menilai program televisi di Indonesia secara umum masuk dalam kategori biasa-biasa saja. Hanya 27,2 persen yang berpendapat acara TV sudah baik, sementara 24,6 persen malah memandang isi TV kita masuk dalam kategori buruk.

Riset ini menerapkan enam kriteria penilaian kualitatif sebuah acara TV bisa dikatakan bermutu tinggi, yakni bisa menambah pengetahuan, bersifat pengawasan atau memberi peringatan, membangkitkan empati sosial, meningkatkan daya kritis, memberi model perilaku yang baik, dan menghibur.

”Kick Andy” terbaik

Berdasarkan jawaban dari responden, program Kick Andy yang dipandu host Andy Noya dinilai sebagai program terbaik dari semua program yang ada di televisi. Sebanyak 47,1 persen responden memilih program tersebut. Bandingkan dengan program ber-rating tertinggi versi AGB Nielsen, yakni sinetron Azizah.

Kick Andy juga dinilai sebagai program talkshow terbaik versi riset ini, sedangkan menurut AGB Nielsen, program Empat Mata adalah yang ber-rating tinggi. Namun, bukan berarti Empat Mata juga tidak disukai. Sebab, riset ini menunjukkan bahwa Empat Mata menempati urutan kelima setelah Kick Andy, Today’s Dialogue, Oprah Winfrey, dan Dorce Show.

Andy Noya mendukung riset mengenai rating publik ini karena memberi alternatif lain soal rating. Selama ini, AGB Nielsen menjadi semacam ”Tuhan”-nya untuk televisi dan periklanan sehingga seolah-olah menjadi satu-satunya kebenaran.

Kekuatan Kick Andy, menurut Andy, adalah pada tema dan content atau isi. Presenter hanyalah unsur kecil yang justru menjadi kelemahan. Itu karena Andy merasa tidak menarik di depan kamera, tidak ganteng, bergaya kaku, dan berambut kribo pula. ”Jadi saya tertolong oleh tim yang solid. Kick Andy ini kental dengan unsur jurnalisme. Kami mengandalkan jaringan yang dimiliki Metro TV, yakni reporter yang tersebar di banyak daerah. Merekalah yang banyak memberi informasi,” paparnya.

Kekuatan lain Kick Andy adalah, program ini mengasah kepekaan sosial dan selalu menyampaikan pesan moral. Misalnya soal tema kelamin ganda, kaki palsu, atau guruku pemulung. Topik yang diangkat berimbas sangat luas. Soal kaki palsu, misalnya, ternyata banyak sekali orang yang membutuhkan. Karena itu, muncullah gagasan untuk membuat kegiatan ”1.000 Kaki Gratis Kick Andy” dan sudah terkumpul dana Rp 1 miliar dari sponsor.

”Kelemahan Kick Andy selain pada host-nya juga unsur hiburannya. Kick Andy juga tidak interaktif, tidak bisa berdialog dengan penonton di rumah karena direkam,” terang Andy.

Ada beberapa program yang dinilai bagus oleh responden survei ini, dan juga di rating tinggi oleh AGB Nielsen. Namun, ada pula yang sangat jauh panggang dari api. Bagaimanapun, patokan ini patut menjadi alternatif.

5/21/2008

Ketika yang Menolong Hanya Selembar Kartu Sakti











Hari baru pukul 10 saat aku bergegas naik ke lantai dua Plaza Cileduk. Hari itu aku harus ada uang untuk keperluan mendesak. Ya, sudah beberapa kali Bang Ryan ini yang menyelamatkan kami. Sayang sekali, kali ini aku harus kecewa, toko Bang Ryan yang tersembunyi di sudut plaza yang sesak.

Sejak ke Jakarta, Bang Ryan cukup sering membantu keuangan kami kala mendesak. Bang Ryan bukan family, ia hanya seorang pedagang yang menerima tarik tunai kartu kredit. Aku pun tau dari iklan keciknya di koran. Tarik tunai di tempat dia ini seolah kita membeli barang elektronik, namun kita diberi cash. Ia dapat untung dari biaya sekitar 4 persen. Biasanya ia akan nanya mau bersih apa kotor?

Kalau bersih artinya kalau kita minjam 1 juta, maka kita terima satu juta bersih namun di kwitansi tertulis rp 1.035.000, yang 35 ribu buat dia. Kalau kita mau terima kotor, berarti di kwitansi tertulis pas rp 1 juta namun kita nerimanya rp 965.000 atau 1 juta kurang bagian dia.

Pada kawan-kawan sering aku bilang, bahwa kalau hidup di Jakarta ada dua syarat utama, Pertama, HARUS KAYA dan kedua HARUS SABAR.

Kaya, karena semua serba mahal dan butuh biaya. Sejak pindah ke Jakarta aku harus mengeluarkan banyak biaya yang sebelumnya gak pernah ada budgetnya. Sewa rumahlah dan sebagainya.

Sabar, karena kita mesti berhadapan dengan macet, banjir, lalu lintas yang amburadul dan kelauan orang yang bermacam-macam. Aku sendiri kayaknya udah bisa sedikit sabar, sayangnya belum KAYA-KAYA.

Alhasil, setiap bulan selalu MANTAB alias MAKAN TABUNGAN. Parahnya, sudah makan tabungan, minus pula dan mesti ada subsidi baru. Dan jalan terakhir adalah TARIK TUNAI dari KARTU KREDIT yang akan dilunasi secepat mungkin pas gajian.

Dan hiduppun macam lagu Bang Rhoma Irama, Gali Lobang Tutup Lobang....

Aku sudah punya kartu kredit sejak 5 taun lalu. Dulu memang gunanya tak sering ada. Hanya buat kondisi mendesak aja. Namun dulu tetap ada ada godaan buat beli barang. Misalnya elektronik dan HP. Alhasil, bayarnya susah.... Akibatnya pernah aku hanya sanggup bayar bunga saja sementara hutangnya gak berkurang sama sekali.... Untung aku cepat sadar dan tutup semua hutang, kalaun tidak, entah bagaimana leher terjerat kartu BIADAB itu...

Sejak ke Jakarta, tiba-tiba hubungan kami dengan Kartu Kredit itu makin mesra aja. Maklum keperluan uang makin banyak sementara teman bagi masalah atau teman pinjam duit gak ada... Saudara juga jauh semua. Alhasil, kartu Citibank dan BNI yang aku punya pun menjadi Saudara Terkandung....

Suatu malam, anak kami Baron sakit. Muntah dan mencret.... Seharian gak sembuh... Obat tak mempan... Daun jambu yang direbus sudah diminumkan berkali-kali... Mencretnya makin parah, air besarnya malah sudah air semua... Sementara uang gak ada... Sementara kartu askes yang kami punya hanya bisa digunakan dengan pakai uang sendiri dulu...

Akhirnya kami nekat membawanya ke rumahsakit. Benar saja, di UGD ia muntah ke baju dokternya. Kontan saja sang dokter langsung perintahkan opname. Saat mendaftar di loket, aku pun diwajibkan menyetor deposit satu juta lebih... Pusing, mau nyari uang kemana?

Untung mereka cepat memberitahu bahwa bisa pakai kartu kredit... Maka dengan gagahnya, sang kartu membantu kami saat itu. Sejak saat itu, kami sering berkelakar bahwa satu-satunya family di kota besar ini hanya MBak Siti.... Maksudnya Citibank...

Kejadian berlanjut, Baron kembali sakit diare. Semua gara-gara air yang kotor... Kami merasa tertipu pemilik rumah. Kami tawarkan perdalam sumur bor dengan biaya setengah-setengah dia tetap gak gubris. Apa boleh buat, kami harus pindah meski kontrak rumah masih sisa 7 bulan... Sekali lagi, Mbak Siti (Citibank) menjadi dewa penyelamat, pada saat yang pas, aku ditawari Personal Loan sebagai fasilitas pengguna kartu kredit Citibank... dan akhirnya kami bisa pindah dan hidup sedikit lebih sehat...

Persoalan ternyata belum selesai... Beberapa kali kami mesti pontang panting mengatur keuangan....Hingga akhirnya tak ada jalan keluar selain minjam... Dan jalan satu-satunya hanya TARIK TUNAI lewat merchant, bukan lewat ATM. Sebab, kalau tarik tunai lewat ATM bunganya besar sekali. Sementara kalau tarik tunai dari toko bunganya sesuai dengan bunga belanja.

Seperti Bang Ryan, dia buka tokonya adalah toko elektronik merk tertentu, sekarang di tokonya juga jual handphone. Namun jualan sebenarnya adalah Alat atau mesin pembayaran kartu kredit itu... Dulu pas aku pertama kesana, Bang Ryan nampaknya juga baru bisnis itu, sebab ia saat itu juga masih kaku dan sempat salah ngetik jumlah uang segala.

Kembali ke cerita tadi, setelah siangnya melihat toko Bang Ryan tutup, sorenya aku beranikan lagi datang kesana. Bak menemukan harta karun, aku senang sekali melihat toko kecil itu buka. Melihat aku, Bang Ryan udah langsung paham. Ia pun langsung basa-basi bahwa memang baru buka karena harus membawa anak-anaknya rekreasi karena hari libur sekolah...

Transaksi pun lancar, Segepok uang berpindah ke dalam dompetku... Mudah-mudahan segera ada ganti buat membayarnya, karena akan susah kalau tak dibayar segera...

Sebenarnya toko seperti Bang Ryan ini banyak sekali. Sebelum dengan bang Ryan, aku juga pernah tarik tunai di toko travel dan toko emas. Biasanya mereka memang liat-liat dulu orangnya. Malah awalnya, aku mesti ditemani teman yang dari Bank, baru mereka mau melayani.

Di Medan, di toko emas yang ada tarik tunainya, aku diberi kartu agar setiap tarik tinggal memperlihatkan kartu itu saja sebagai identitas agar mereka segera tahu kalau kita udah pernah kesitu...

Berutang memang bukan pilihan, namun pada saat-saat tertentu berutang menjadi keharusan....

Kalau bisa memilih, aku ingin rasanya menggunting dua kartu kredit yang ada di dompet. Namun mengingat kondisi, rasanya masih butuh pertolongan mereka suatu saat nanti...

Beruntunglah orang-orang yang berkecukupan sehingga tak harus pusing pikir macam-macam soal keuangan rumahtangga.

Banyak orang yang takut pakai kartu kredit. Dan memang jangan sembarangan pegang kartu kredit, walau sakti dan berjasa pada kondisi darurat, kalau tak mampu menahan selera, kita bisa dijeratnya... Namun kalau mampu mengendalikan, kartu itu memang menjadi kartu sakti yang berjasa sekali.

Tipsnya sedikit saja, jangan pakai buat konsumsi, jangan pakai buat keperluan yang tidak mendesak. kalau pun harus tarik tunai, tarilah dari toko, jangan sesekali tarik tunai dari ATM. Dan terakhir, menabunglah agar di akhir bulan masih ada yang akan dikuras....

5/19/2008

Susahnya Mikirin Sekolah...

Tahun ini anakku Queena sudah masuk SD. Kami sudah siap-siap nyari sekolah. Namun ya Ampunnn, biayanya besar sekali...

Beberapa teman TK-nya sudah mendaftar di sekolah swasta. Biayanya antara 2,5 hingga 10 juta. Sebuah hal yang sedang tak sanggup kami lakukan saat ini. Makanya yang terpikir adalah masuk ke SD Negeri.

Dari beberapa orangtua teman TKnya, diberitahu bahwa di SD negeri biaya pun lumayan mahal. Akan habis juga sekitar 1,5 juta-an. Itu pun masuknya harus pakai antri ambil formulir sejak subuh.

Sabtu lalu, aku sempatkan mampir di SDN 1 Pinang, maksudnya mau nanya kapan pendaftaran dimulai. Disana sama sekali gak ada pengumuman apa-apa. Mungkin karena anak-anak sedang ujian. Yang mendatangiku justru seorang pemuda, entah preman entah tukang parkir yang mencoba menjelaskan bahwa pembukaan siswa baru baru akan buka bulan Juni. Ya sudahlah, aku pun pulang.

Ternyata mau masuk sekolah aja susah. Bertolak belakang dengan keinginan pemerintah agar semua warganya sekolah, minimal SD. Aku jadi terpikir bagaimana yang keluarganya gak mampu ya? Darimana mereka membiayai semua itu? Karena sejak dana BOS ada, sekolah justru menerapkan uang buku dan semuanya lebih tinggi, katanya untuk ini dan itu.

Bahkan kata orangtua teman anakku, ia bisa menitip pengambilan formulir ke salah seornag guru dengan biaya 65 ribu. Ini keterlaluan. Aku jadi ingat di kampung, disana, kalau masuk sekolah yang masuk aja. Sudah. Gak mesti pusing-pusing. Pantas aja di Jakarta ini orang-orang berlomba masuk sekolah swasta. Di kampungku, orang masuk swasta kalau di negeri sudah tak lulus.

Aku iba juga pada Queena karena tak bisa memasukkannya ke sekolah swasta yang agak bagusan. Kondisi keuangan sedang tak memungkinkan. Masuk SD negeri aja yang biayanya sekitar 1,5 juta aku harus pontang panting. Untunglah keluarga besar paham.

Minggu lalu, ibuku mengirimkan uang 500 ribu, katanya buat nambah biaya masuk sekolah Queen. Trus mertuaku juga ngirim 2 stel baju seragam, dan akan ngirim uang juga. Makasih semuanya.... Inilah hakikat keluarga yang saling bantu dalam kesusahan.

Mudah-mudahan semua beres, Queena bisa sekolah mesti aku belum tau kapan harus antre dapetin formulir pendaftarannya... Semua masih belum jelas.

Yang penting sekarang, Queena sekolah aja dulu, dimana saja gak jadi masalah. Nanti kalau sudah ada uang baru dipindahkan ke sekolah yang favorit deh, Insya Allah...


4/25/2008

Cerita soal Aie Bangih di Padang Ekspres

Saya menggabiskan masa kanak-kanak di Aie Bangih, maka pas nemu tulisan ini saya jadi rindu sekali melihat Aie Bangih lagi... Main-main ke Tugu, berenang di sepanjang pantai (asal jangan kena kotoran manusia aja) dan berdayung sepanjang muara, atau juga memancing di dermaga pelabuhan...

PADANG EKSPRES

Bertaruh Nyawa di Atas Hantaman Gelombang, Pulau Perawan nan Mahal
Minggu, 13 April 2008
Sample ImageKabupaten Pasaman Barat, salah satu kabupaten di Sumbar, menyimpan banyak kekayaan alam. Tidak hanya sumber tambang, tetapi juga sumber daya alam yang indah dan dapat dijadikan objek wisata bahari unggulan. Di Pasaman, ada sebuah pulau perawan. Pulau Panjang, begitu masyarakat menyebutnya. Transportasi yang minim menjadikan pulau ini objek wisata mahal untuk dikunjungi. Memang tidak mudah untuk sampai ke pulau tersebut. Satu-satunya transportasi

ke pulau berpenduduk 1200 jiwa itu hanyalah perahu motor atau speadboad. Setengah jam, kita harus bertaruh nyawa dengan gelombang laut besar menuju pulau dengan luas 220 hektar tersebut. Dapat dipastikan, objek pulau ini belum dikunjungi banyak orang, kecuali penduduk di sana. Pulau ini tercatat, satu-satunya pulau berpenghuni di Pasaman Barat.

Pulau ini cocok dikunjungi bagi petualang sejati. Berangkat menggunakan Speedboad dari pelabuhan Air Bangis, cukup membuat hati berdebar-debar tidak karuan. Meskipun cuaca tidak terlalu buruk, ombak tetap tinggi menghantam perahu yang ditumpangi. Begitulah keseharian masyarakat Pulau Panjang menjalani kehidupan menuju pulau itu. Masyarakat Pulau Panjang biasanya belanja kebutuhan sehari-hari ke Pasar Air Bangis dengan ongkos Rp 6.000 pulang pergi. Sebagian besar penduduk pulau bekerja sebagai nelayan dan berdagang kecil-kecilan.

Sample ImageWarga dan anak sekolah saat sampai di Pulau Panjang setelah menyeberang dari Air Bangis menggunakan perahu.JPG

Tidak hanya transportasi, tetapi sarana dan prasana di pulau tersebut amat minim, sehingga kebanyakan anak pulau bersekolah ke Air Bangis. Menurut Wali Jorong Pulau Panjang, Ilman Tanjung, 90 persen warga pulau miskin, karena mereka hanyalah nelayan dan pedagang kecil. Pulau ini memiliki keindahan alam yang luar biasa. Pemandangan laut yang haru biru, serta hutan yang masih terjaga. Bahkan budidaya rumput laut berpotensi dikembangkan lantaran kondisi laut yang memungkinkan. Namun sayangnya, masyarakat pulau belum mendapatkan pengetahuan tentang hal itu.

Masyarakat ini membutuhkan pembinaan, begitupun keindahan alam di sana. Butuh sentuhan agar dapat dijadikan wisata unggulan di Pasaman Barat dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pulau Panjang. Masyarakat ini meminta pemerintah membangun posko jaga untuk memantau gangguan dari pihak luar. Selain itu, dalam waktu dekat Pemkab Pasbar akan membangun pelabuhan Teluk Tapang yang akan dapat menghidupkan ekonomi di Pulau Panjang.(altas maulana)

4/06/2008

Harga-harga yang Mencekik Leher

Tadi pagi, istri mengeluh. Satu bungkusan kecil yang ia beli dari pedagang sayuran keliling harus ditebus dengan 25 ribu. Padahal biasanya hanya 10 ribuan. Bawang merah yang biasanya bisa beli seribu, sekarang paling sedikit harus membeli seharga 4 ribu. Ada apa di negara ini, sehingga harga-harga seperti tak terkendali?

Dulu saat kecil, aku sering diceritakan ibu tentang masa darurat. Katanya saat itu semua mahal dan langka. Baju pun harus pakai karung goni. Sembako antre, saat itu semua hanya di angan-angan, sepertinya tidak akan pernah terjadi lagi. Tapi kemudian, suasana itu justru menjadi hal biasa sekarang. Antre dimana-mana, bahkan sampai harus ada kartu kendali segala. Ironisnya, antrean itu buat membeli, bukan gratisan... Sudah harga mahal, antre pula. Kloplah sudah keterpurukan bangsa ini.

Bagi sebagian orang mungkin biasa. Tapi, bagi kami yang duitnya pas-pasan sangat memberatkan. Budget bulanan tak pernah sesuai perkiraan. Selalu harus ada hutang... Sebuah yang tak pernah aku alami sebelumnya. Mungkin juga karena sekarang aku hidup di Jakarta yang memang situasinya begitu, tapi seharusnya Jakarta lebih baik dibanding daerah. Karena daerah tentu mengalami yang lebih parah lagi.

Di kampungku PAsaman Barat sana, semua barang harganya lebih mahal karena semua harus dibawa dari Padang, saat harga Aqua galon di kota masih 8 ribu, orangtuaku di Silaping sana sudah harus membelinya 15 ribu. Lalu bagaimana sekarang setelah harga-harga di kota pada naik? Orang-orang di kampung tentu akan mendapatkan efek yang dahsyat.

Di Kompas beberapa hari lalu, ada artikel yang kalimatnya dimulai dengan pertanyaan APA KERJA Pemimpin bangsa ini? Mau ngurus lagu atau sembako? Mau nonton film Ayat-ayat CInta atau ngurus warga miskin.

Siapa yang harus disalahkan kalau ini semua ternyata fenomena global. Disini, tahapan Pemilu sudah mulai kemarin. Pemimpin kita tentu akan sibuk ngurus partai, bukan ngurus rakyat lagi. Minimal sampai pemilu tahun depan. Lalu rakyat mau apa? Apa hanya dimanfaatkan kalau mau kampanye saja?

Alamak, makin pusing kepala kalau memikirkan ini. Seharusnya kita menikmati hidup, bukan memikirkan karena sudah banyak pejabat yang digaji untuk memikirkannya. Tapi apa mereka memang mau memikirkannya? Lha, pembalakan kayu di Kalbar aja yang terlibat justru pejabat-pejabat. Lalu siapa yang bisa nangkap koruptor kalau semua ikut korupsi?

Udahlah, bagusan kita pindah negara aja yuk, tapi negara mana yang mau nampung warga Indonesia? He he he...